This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 23 Oktober 2017

Berdamailah dan Cintailah Bumi

Berdamailah dan Cintailah Bumi

Oleh: 
Reweng Mane

"Bumi adalah ibu kehidupan. Ia merahimi dan melahirkan susu dan madu bagi seluruh ciptaan termasuk kita manusia”
Petikan singkat di atas merupakan seruan kritis sekaligus siraman inspiratif bagi kita umat manusia saat ini. Hidup kita saat ini sedang dilanda oleh berbagai bentuk krisis secara khusus terkait dengan ancaman terhadap lingkungan hidup dan kemanusiaan kita sendiri. Setiap hari kita selalu diliputi dengan berbagai peristiwa sedih seperti bencana banjir dan tanah longsor, musim tak tentu, pemanasan global akibat menipisnya lapisan ozon, musnahnya berbagai macam mahluk hidup akibat kehilangan habitatnya, sampai pada bencana kekeringan, jeritan kelaparan serta derita kemiskinan yang semakin mendera kehidupan umat manusia sendiri.
Semua peristiwa sedih dan duka seperti itu sangat memilukan nurani dan budi kita, sehingga seolah-olah mengajak dan bahkan memaksa kita untuk kembali melihat dan merefleksikan keberadaan kita di atas muka bumi ini, secara khusus terkait pola relasi kita dengan lingkungan alam kita. Kita mesti mengakui bahwa relasi kita dengan lingkungan alam khususnya sudah sangat memprihatinkan. Berbagai macam peristiwa duka tersebut kita harus akui merupakan dampak buruk dari tindakan dan perbuatan rakus kita akan alam. Kita seringkali berelasi dengan alam dengan sikap cendrung mementingkan diri sendiri, egois, tanpa peduli terhadap keberadaan dari alam itu sendiri.
Kemunduran Respek Terhadap Alam
Deretan persoalan di atas merupakan fenomena bahwa kita sebagai manusia sedang mengalami kemunduran sikap dan pola laku terhadap alam. Kita sebagai manusia di zaman sekarang telah kehilangan cita rasa akan ketergantungan kita pada alam. Alam tidak lagi dipandang serta dirasa sebagai ‘bagian integral dari kehidupanku’‘sebagai tempat di mana aku berada, hidup, dan beraktivitas’’sebagai tempat diriku bermukim’, dan justru kita cendrung ‘memandang alam sebagai hal terpisah dari diriku’.
Peristiwa kemunduran sikap terhadap alam tersebut memang salah satu dampak dari  cara berpikir  modern di mana melihat alam secara instrumental dan teknokratis, sebagai objek pemenuhan hasrat dan kuasa ekonomis semata, sehingga tidak heran bahwa terdapat berbagai bentuk kejadian eksploitatif terhadap alam seperti kasus pembabatan hutan secara liar, pembakaran lahan, sampai pada usaha pertambangan dengan sikap tanpa peduli terhadap kondisi ekologi sekitar. Dalam konteks Kitab Suci Kristiani, cara berpikir tersebut berakar pada sebuah penafsiran salah kaprah terhadap seruan Allah dalam kitab Kejadian bagi manusia untuk menguasai alam. Dalil Kitab Kejadian ini sering dijadikan dasar legitimasi tindakan kita untuk memanfaatkan alam tanpa rasa tanggung jawab terhadap keutuhan ekosistem alam tersebut.
Berbagai sikap terhadap alam di atas tentu tidak dapat dilepaskan dari karakter lahiriah kita sebagai manusia. Sebagai manusia, kita memang memiliki karakter untuk menjadi penguasa terhadap segala sesuatu termasuk untuk menjadi penguasa atas alam. Hasrat alamiah ini berangkat dari suatu rasa kepongahan serta kelobaan di dalam diri kita sendiri di mana kita tidak pernah puas dengan segala yang kita miliki. Kita seringkali ingin menjadikan segala sesuatu menjadi milik kita sendiri tanpa peduli pada orang lain.
Karakter alamiah seperti ini jika dipelihara pasti akan berdampak buruk terhadap segala sesuatu bahkan bagi hidup manusia itu sendiri. Tanpa kita sadari bahwa hasrat untuk menguasai segala sesuatu termasuk alam, sesungguhnya sama dengan hasrat untuk membunuh diri sendiri secara tidak langsung, karena manusia itu sendiri tidak dapat hidup tanpa segala sesuatu. Dia selalu tergantung dengan segala sesuatu termasuk alam sebagai tempat dia berpijak dan mendapatkan makanan bagi keberlangsungan hidupnya. Apakah mungkin kita dapat hidup tanpa kita memerhatikan keberadaan dari yang lain secara khusus terhadap alam sebagai sumber segala kebutuhan hidup kita.
Pertobatan Ekologis
Ancaman terhadap kehidupan akibat kerusakan lingkungan alam tersebut di atas mesti menjadi sebuah kesempatan bagi kita untuk memikirkan kembali terkait dengan jejak relasi dan perilaku kita terhadap alam. Kita mesti sadar bahwa kerusakan alam merupakan suatu ancaman bahkan telah menjadi sebuah bencana bagi hidup kita di atas bumi ini, sebab kerusakan alam juga sudah pasti berdampak pada ancaman hidup kita dan bahkan akan mendatangkan kemusnahan bagi hidup kita sendiri. Oleh karena itu, kita mesti memulihkan kembali hubungan kita dengan alam secara khusus terhadap dosa yang telah kita lakukan dalam mengeksploitasi lingkungan alam secara sewenang-wenang tanpa sikap bertanggung jawab sedikitpun.
Usaha pemulihan relasi tersebut dapat dilakukan dengan mengubah cara berpikir kita terhadap alam. Kita mesti sadar bahwa alam adalah tempat kita bermukim, sebagai rumah kita, tempat kita menimba segala sesuatu, dan sebagai sumber segala kebutuhan hidup kita. Dari alam kita akan mendapatkan udara untuk bernafas, makanan untuk dimakan, air untuk diminum. Alam adalah tempat di mana kita dapat mewujudkan segala mimpi kita, sebagai sebuah ladang peradaban kita, sebagai lapangan di mana kita dapat bermain dan bercanda tawa bersama. Singkat kata, alam adalah bagian tak terpisahkan bagi kehidupan. Oleh karena itu, pelestarian akan alam merupakan suatu tuntutan hakiki sekaligus ajakan etis bagi kita. Kita mesti menjaga, merawat, dan memelihara serta mencintai alam sebagai bagian dari diri kita sendiri, sebab mencintai alam berarti juga mencintai dan peduli terhadap diri kita sendiri. Alam yang indah dan terawat akan menentukan kebahagiaan kita bersama. 
*Reweng Mane: Penikmat Sore!
Share:

Rabu, 11 Oktober 2017

Warta Kematian Nalar

Putra Manggarai


Ada satu ungkapan menarik dan menghentakan kesadaran kita di penghujung dunia modern, begini bunyinya, "tuhan sudah mati, kitalah para pembunuhnya." Ungkapan tersebut dikumandangkan oleh seorang filsuf soliter German, Frederick Nietzsche.

Dalam sejarah pemikiran manusia, kata-kata ini hendak menggambarkan situasi peradaban Barat waktu itu yang sedang berada di ambang krisis akibat berkembangnya cerita besar seperti menjalarnya berbagai pemikiran ideologis semisal komunisme. Cerita besar ideologis seperti itu memiliki dampak lanjut sampai pada lahirnya fasisme di Itali dan rezim otoriter rasistis Nazi di German di bawah tangan Adolf Hitler.

Lewat kata-kata tersebut, Nietzsche mengritik keras peradaban Barat yang dinilainya sebagai pemuja ide-ide besar yang baku sekaligus kaku, yang biasa dinamakan sebagai 'tuhan'. Bagi Nietzsche, yang disebutkan 'tuhan' ini merupakan asal-usul krisis dalam peradaban manusia. Itu membuat manusia menjadi tidak berkembang karena selalu tunduk dan taat pada kehendak ide besar yang disebut tuhan itu. 

Dalam sikap tunduk pada 'tuhan' itu manusia menjadi budak, dan kebebasannya digerogot habis-habisan. Hal ini kemudian mendorong Nietzsche mewartakan kematian 'tuhan' yang membelenggu jiwa manusia dalam kerangkeng kaku dan bakunya. Ia mewartakan kematian 'tuhan' dengan intensi agar manusia teremansipasi dari perbudakannya sendiri, sehingga dapat menjadi manusia-manusia kreatif yang secara terus menerus menciptakan kehidupan yang lebih berkualitas.

Kritik Nietzsche ini kemudian disambut baik oleh para pemikir setelahnya yang kemudian melahirkan suatu peradaban baru terlebih khusus bagi yang disebut dunia post-modern. Kata ini sendiri pun tidak jelas maksudnya.

Hal itu juga sangat mendukung perkembangan sebuah aliran besar dalam sejarah filsafat yaitu eksistensialisme, secara khusus dari Jean-Paul Sarte. Pengaruh Nietzsche pada Sarte dapat dilihat dari penolakannya terhadap apa yang disebut esensi. Bagi Sarte, "eksistensi itu mendahului esensi", dan karena itu terjadi penolakan terhadap 'tuhan'. Ada beberapa hal yang dapat diambil dari peradaban baru ini.

Pertama, soal penekanan pada kebebasan individu oleh kaum eksistensialis. Secara garis besar, kelompok ini menolak sebuah sistem. Mereka berpandangan bahwa kebebasan individu itu merupakan unsur penting demi pengaktualisasian dirinya. 

Bagi mereka sistem itu justru dapat membatasi bahkan membelenggu diri manusia dan tidak memungkinkan manusia dapat bertumbuh dan berkembang mewujudkan segala potensi yang dimilikinya. Sistem itu dapat berupa aturan-aturan yang mengikat dan mengatur diri manusia. Bagi kaum eksistensialis, manusia individual sendirilah yang mesti mengatur dirinya sesuai dengan gairah-gairah potensial yang ada di dalam dirinya.

Kedua, dalam dunia post modern sikap rispek terhadap pluralitas nilai dan pandangan hidup sangat ditekankan. Dalam konteks ini, segala cerita besar yang hendak menyeragamkan manusia dikritisi bahkan secara ekstrim dihancurkan. Yang tersisa adalah cerita-cerita fragmen. 

Mereka memang tidak menolak total terhadap cerita besar itu, tetapi cerita besar yang kebenarannya dinyatakan secara paksa itu sangat ditolak. Bagi mereka, kebenaran itu mesti diperoleh secara intersubjektif. Dalam situasi seperti ini, orang juga dituntut untuk menjunjung tinggi nilai toleransi. 
Segerombolan Manusia Pucat
Keadaan seperti itu tentu di satu sisi baik karena manusia sudah sadar bahwa apa yang terjadi seperti dalam dunia modern sebutkan sebagai 'cerita besar' tidak diterima begitu saja, apalagi secara paksaan. Cerita besar yang dipaksakan seperti itu dinilai telah mengangkangi kemanusiaan manusia, karena dengan penemuan patokan tunggal terhadap kebenaran, peradaban manusia justru jatuh pada totalitarianistis.

Tetapi, penolakan total terhadap patokan kebenaran juga justru membawa peradaban manusia itu ke ambang krisis, karena bagaimanapun juga, hidup manusia mesti ditopangi oleh 'sesuatu' yang dapat mengarahkan dan menentukan arah peradaban manusia itu secara benar. Meskipun dalam situasi seperti ini, kebenaran tetap diterima melalui proses intersubjektif, tetapi bukankah itu membutuhkan waktu yang cukup lama, dan orang akan dengan susah payah menantinya. 

Ketiadaan dari 'sesuatu' yang seharusnya menjadi rujukan norma prilaku 'universal' justru lebih berbahaya, sebab kalau apabila demikian, orang dapat melakukan apa saja sesuai dengan kepentingannya, bahkan mereka akan memakai dalih kebebasan untuk menghalalkan apapun yang dilakukannya.

Salah satu dampak dari cara berpikir seperti ini adalah bertumbuh suburnya sesuatu yang disebut sebagai relativisme. Pandangan ini menolak keras nilai universal. Bagi kaum relativis, kebenaran itu adalah milik saya, dan saya dapat menentukan apapun terhadap kebenaran. Dengan kata lain, menurut mereka, tidak ada kebenaran objektif. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi kehidupan, karena menyebabkan segala sesuatu berkembang secara bebas. Hidup aktual kita sudah semakin menunjukkan hal seperti itu, termasuk kita di Indonesia.

Saat ini kita sedang masuk dalam ruang di mana setiap orang dapat berselancar secara bebas untuk menafsirkan kebenaran. Segala otoritas yang memberikan panilaian ditolak habis-habisan, patokan nilai universal disepak keluar dari kehidupan. Singkatnya era kita saat ini telah disulap menjadi tempat bertumbuh suburnya relativisme yang sudah lama menjadi momok menakutkan dalam sejarah peradaban umat manusia. Efek itu kemudian menjalar ke kehidupan kita di Indonesia saat ini.

Kita ambil contoh tentang fenomena yang mendera sejarah Indonesia sekarang. Pasca kejatuhan Orde Baru di bawah tangan kediktatoran Soeharto, setiap orang dengan bebas berselancar dengan seenaknya dalam ruang publik. Kebebasan yang dikekang lama selama 32 tahun di tangan rezim Orde Baru, kini menari puas di atas panggung reformasi yang berkonsentrasi pada demokrasi. 

Cita-cita reformasi yang hendak mengangkat kederajatan manusia dari belenggu cerita besar Orde Baru ternyata telah melahirkan adegan-adegan yang justru mencabik gerak sejarah itu menuju kebahagiaan bersama. Atas nama kebebasan semua orang berhak melakukan apa saja, seperti berseliwerannya berita bohong atau palsu - HOAKS

Penarikan kebebasan dari tangan kediktatoran rezim Soeharto ternyata menceritakan pembebasan manusia-manusia yang minus nalar kritis yang ternyata belum mampu menyelami dan memahami makna kebebasan itu. Padahal, sikap rispek terhadap kebebasan juga mengandaikan mesti berkembangnya nalar kritis setiap manusia. 

Kebebasan selalu mengharapkan kemampuan nalar untuk menatap dan mencari kebenaran yang tidak terikat pada suatu kelompok tertentu semata melainkan mengakumulasi setiap intensi dan cita-cita dasar setiap manusia seperti nilai keadilan, kebaikan, kedamaian. 

Saat ini memang dalam panggung kehidupan bersama kita telah sedang menunjukkan adegan kebebasan yang tidak dikontrol di bawah terang nalar. Kita sedang menyaksikan bahwa dunia kita bersama sedang ditimpah duka atas kematian nalar sehat. 

Kematian nalar sehat itu kemudian menyulap panggung peradaban menjadi tempat kepicikan meraja, kebencian meluap, caci makian mengakar, nafsu berkuasa membengkak. Semua itu disokong di atas dalih kebebasan individu. 

Idea tentang pentingnya kebebasan yang diperhatikan dengan penuh kekuatan di era reformasi ini ternyata telah membawa malapetaka besar bagi peradaban kita di Indonesia saat ini. Kita tidak lagi dapat memastikan tentang apa itu kebenaran, siapa yang berhak mengklaim kebenaran, siapa yang mesti didengarkan karena kebenaran. 

Intinya saat ini kita sedang dirundung oleh sebuah gelombang besar di mana semua orang dapat mengatakan kebenaran yang hanya sesuai dengan selerah-selerah individual dan gairah-gairah selangkangannya. 

Dalam era seperti ini kebenaran tidak lagi diuji dan diperoleh secara intersubjektif. Lebih parahnya bahwa kebenaran diklaim sebagai milik mayoritas massa. Dikatakan massa karena mereka tunduk di bawah kekuatan emosional yang hanya mampu berteriak mengandalkan kekuatan jumlah dibandingkan dengan dasar argumentatif yang jelas dan rasional. 

Orang-orang seperti ini sudah pasti tidak akan memikirkan tentang kepentingan orang lain. Dalam tangan mereka kebenaran dianggap secara hitam-putih, sehingga tidak heran mereka menciptakan kategori 'kami' dan 'mereka' yang melahirkan kehancuran keutuhan hidup bersama. 

Ketika masuk dalam situasi seperti ini sangat mustahil segala cita-cita baik individual maupun kolektif terwujud, pembangunan sudah tentu tidak akan berjalan karena kita sibuk dengan urusan-urusan emosional. Kalau begitu masihkah kita berharap tentang keadilan dan kebaikan apalagi kebahagiaan untuk kehidupan kita?

Kalau Nietzsche mengumandangkan kematian tuhan, saat ini sepatutnya kita mewartakan kematian nalar. Siapakah yang membunuhnya? Tentu gairah-gairah selangkangan kita, tentang keberpihakan kita pada egoisme diri kita!
"Mari kita melayat kematian nalar itu, siapa tahu dia akan bangkit dengan kehadiran kita!"
...
Yones Hambur
Ibu Kota, 2017!
Coretan dalam Secangkir Kopi

Share:

Minggu, 08 Oktober 2017

BULAN JANGAN PERGI

Nita Kurniati

NITA KURNIATI

...
Matahari telah pergi beberapa saat yang lalu, bintang-bintang mulai menggelatung di langit. Tidak ada lagi lagu dan seruling para petani dan para gembala yang menggembalakan teknaknya. Lampu-lampu pelita mulai dinyalakan, sendu gurau mulai terdengar dimana-mana. Tampak di ujung kamar sebuah rumah bambu terdengar gemersik suara lembut seolah sedang mengamuk pada malam. Ia seperti terdapar pada lorong gelap, putus asa, marah, benci, semuanya berkecamuk dalam pikirannya.
“Mama…mengapa nasibku seperti ini?” tanyanya sambil menatap bulan di atas atap rumah.
Ia adalah Tilda, gadis manis bermata jeli.
Ia kembali merenungkan nasibnya berada di kampung itu. Kampung yang tak penah menjadi impiannya untuk mengabdi, letaknya jauh di ujung Indonesia. Terkadang ia menyesali perjumpaan demi perjumpaan dengan siswanya.
“Selamat pagi anak-anak?” Seuntai senyum manis dilemparkannya kepada siswa kelas 3 sekolah dasar.
“Selamat pagi Bu guru!” Jawab siswa serempak.
“Anak-anak hari ini, kita akan belajar di luar kelas.” Kata ibu Tilda dengan ramah.
“Hore…hore…, tapi mengapa kita belajar di luar Bu Guru? Tanya Sesilia, siswa yang paling aktif di kelas.
“Pertanyaan yang bagus! Hari ini kita akan melakukan permainan.” Seru Ibu Tilda dengan semangat.

Ibu Tilda mulai menerangkan cara bermain dan aturan permainan. Permainan tersebut merupakan permainan tradisional yang dalam bahasa Manggarai di sebut permainan Cina atau dalam bahasa Jawa di sebut dengan Angklek. Materi yang dibahas adalah mengenal nilai tukar uang yang dipadukan dengan materi menceritakan pengalaman melakukan permainan. Semua siswa tampak bergembira mengikuti langkah-langkah dan aturan permainan. Mereka bukan hanya menikmati permainan tersebut tetapi mereka juga aktif dalam menjawab pertanyaan yang ada pada kartu soal.
“Sil, apakah kamu senang belajar dengan Ibu Tilda?” tanya Marselinus.
“Ya. Saya selalu senang terhadapnya, sejak pertama kali ia datang ke sekolah kita. Saya sangat mengaguminya.” Jawab Sesilia dengan bangga.
“Saya juga merasa senang, tapi sayangnya sebentar lagi ia akan segera pindah.” Kisah Marselinus sedih.
“Benarkah?” Sontak Sesilia kaget mendengarnya.

Hari demi hari Ibu Tilda semakin dicintai siswa-siswa dan masyarakat di desa Saru. Tidak heran jika terjadi demikian, sebab Ibu Tilda telah mencurahkan seluruh hidupnya kepada siswa-siswa dan masyarakat di desa itu. Pengalaman dan pengetahuan tak ada yang terlewatkan, semuanya telah dibagikan kepada siswa-siswa dan masyarakat di sana.

Suatu hari, nampak dari kejauhan sesosok rupawan mendekatkan dirinya dengan ruang guru. Satu tahun sebelas bulan sosok ini menjadi kerinduannya. Kini ia datang dihadapannya dengan lemparan senyum tipis di bibirnya.
“Mengapa, kamu datang begitu lama?” Tanya Ibu Tilda dengan lembut.
“Maafkan saya Til, engkau tahu sendiri, bagaimana perjalanan hidup saya. Saya hendak menjemputmu pulang.” Jawab pemuda itu dengan lembut pula.
“Sergi, pikiranku lagi kacau. Hal ini adalah yang kutakuti sejak setahun yang lalu. Jika aku pergi, bagaimana dengan siswa-siswaku?” Tanyanya sambil termenung.
“Til, mengapa engkau takuti ha-hal yang demikian? Bukankah kamu percaya bahwa selalu ada jalan lain? Baik bila kamu menenangkan diri dulu, dan menimbang kembali tentang kepindahanmu.” Sergi mencoba menenangkan hatinya.

Kabar kepindahan Bu Tilda sudah tersebar di kalangan masyarakat dan siswa-siswa di sekolah. Masyarakat tampak resah akan kehilangan sosok seperti Ibu Tilda yang tulus mengabdi di desa mereka. Bagi mereka Ibu Tilda adalah bulan yang telah menerangi hati dan menyadarkan meraka akan pentingnya sebuah pendidikan serta memelihara kerukunan dan kebersihan desa. Tak hanya mereka, siswa-siswa mulai merasakan keresahan dalam diri mereka juga.

Pelajaran Bahasa Indonesia dimulai. Ibu Tilda berdiri dengan santai di depan kelas sambil menerangkan teknik dalam membuat puisi. Sebelum pelajaran usai, Ibu Tilda memberi tugas kepada siswa-siswanya, “anak-anak kita sudah belajar tentang teknik menulis puisi. Sekarang, ibu akan menugaskan kalian untuk menulis puisi.” Kata ibu Tilda.
Ia pun kemudian menuliskan tema puisi di papan tulis yaitu tema pendidikan, cinta kasih, dan alam.
“Tok..tok…tok! seorang mengetuk meja
“Bu Guru, akankah Bu Guru segera pindah dari sekolah kami? Tanya Marselinus.
Mata Ibu Tilda mulai berkaca-kaca ketika mendengar pertanyaan dari Marselinus. Sebenarnya ia tak ingin melukai hati siswanya, karena berat untuknya menjawab pertanyaan itu. Berbohong adalah hal paling tepat yang dikatakannya saat itu, meskipun ia menyadari ada hati-hati kecil yang tersakiti karena kebohongan itu. “Anak-anakku, saya tidak akan pindah, saya hanya pergi bertugas di kota untuk sebulan.” Jawabnya tanpa ragu.
“Bukankah Bu Guru akan segera pindah minggu depan?” Tanya Sesilia dengan isak tangis dan tampak marah.
“Tidak! Ibu hanya pergi bertugas.” Jawabnya ketus.

“Tuhan, ampuni hambamu ini yang telah melukai hati anak-anakmu. Engkau tahu, ini bukan inginku. Esok adalah hari terakhirku mengabdi di desa ini, berikan aku kekuatan dan keberanian agar aku sanggup melihat wajah-wajah polos mereka.” Titah Ibu Tilda dalam hati sambil mengemaskan barang-barangnya.
Pipinya dibanjiri dengan air mata. Ia tak lagi menahan air matanya.
Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi, anak-anak berlari menuju ke kelas masing-masing. Nampak di depan ruangan kelas 3 Ibu Tilda sedang menyapa murid-muridnya dengan ramah. Dalam hangat tatapan matanya, ia terkadang meneteskan air matanya, ia tak mampu menatap senyum dari bibir-bibir mungil itu.
“Selamat pagi, anak-anak!” Sapanya dengan semangat.
“Selamat pagi Ibu Guru!” Jawab siswa-siswa memelas. “Hari ini, nampaknya kalian kurang semangat. “Saya belum sarapan pagi bu?” Jawab Tedi. ‘Saya sakit perut Bu!” Jawab Mark. “Saya Lagi Bad Mod, Bu!” Jawab Marselinus.
Ibu Tilda tahu semua jawaban itu hanyalah alasan semata. Ia terharu dan sedih bahwa betapa pedih hati murid-muridnya.
“Ibu Guru, mengapa engkau membohongi kami dan dirimu sendiri? Terbuat dari apakah hatimu?” Dalam lamunanya, Sesilia bergumam sendiri.
Baiklah kita akan bernyanyi “Di Sini Senang di Sana Senang.” Ibu Tilda mencoba menyemangati siswa-siswa.
Nita Kurniati

“Anak-anak, silakan kumpulkan tugas menulis puisi.” Pintah Ibu Tilda. Satu per satu siswa-siswa mengumpulkan puisi-puisi mereka di meja. Ibu Tilda menyadari, betapa hebatnya siswa-siswa itu menyimpan kepedihan dalam hati mereka. Mereka seolah menjadi dewasa dan memahami bahwa terkadang diam adalah tindakan terbaik dikala mulut tak lagi mampu berkata.
“Anak-anak, silakan istirahat. Pelajaran kita telah selesai.” Kata Ibu Tilda sambil menatap dengan dalam pada siswanya.
“Terima kasih Bu Guru.” Jawab siswa-siswa serempak.
Ibu Tilda semakin tak menahan kepedihannya, hari itu adalah hari terakhirnya mendengar suara-suara merdu itu. Kata terima kasih menjadi kata terakhir yang diucapkan siswa-siswanya. Kekuatannya semakin memudar, ia hampir terjatuh di depan kantor guru. Untunglah tangan Sergi menahan tubuhnya.
“Kamu baik-baik saja?” Tanya Sergi dengan penuh kwatir.
“Ya. Aku baik-baik saja.”
“Baiklah, bisahkah kita pergi sekarang? Apalagi kita harus berjalan kaki sampai ke kampung sebelah.”
“Hm….” Jawab Tilda singkat.
Tepat pukul 09.15 mereka meninggalkan kampung itu. Ada beberapa anak yang mendapatkan kepergiannya melambaikan tangan sambil berkata “Bu Guru…Bu Guru hati-hati.” Hati Ibu Tilda semakin sedih. Ia tak mampu berkata apa-apa lagi, hanya lambaian tangan yang mengatakan segala isi hatinya.

Dari kejauhan Marselinus dan Sesilia melihat kepergian Ibu Tilda sampai mereka hilang dari hadapan mereka. “Bu, akankah kau kembali?” Tanya Sesilia dalam hati. “Bu, tidakkah kau merindukan kami?” Tanya marselinus dalam hati. Kedua siswa itu sangat merasakan kehilangan guru yang mereka cintai. Tetapi mereka harus menerima kenyataan pahit itu.

Sebulan telah berlalu, rasa sedih ibu Tilda belum berkurang. Ia teringat akan siswa-siswanya di desa Saru. Ia pun kembali teringat puisi-puisi yang pernah dituliskan siswanya tersebut. Satu persatu ia mulai membaca puisi-puisi tersebut. Anehnya semua siswa menuliskan puisi bertema pendidikan. Matanya mulai berlinang air mata, hingga sampailah ia pada puisi tulisan Sesilia yang berjudul “Bulan Jangan Pergi.” Ia pun mulai membaca satu demi satu kalimat dalam puisi itu.

Ilustrasi

“Bulan jangan Pergi”

Kau adalah guru, yang adalah bulan bagiku
Yang telah menuntunku
Hingga aku menemukan terang
Yang menderang

Kini malam pun datang
Tak kutemukan dirimu lagi
Dimanakah dirimu?
Dapatkah aku menemukanmu?

Bulan,
Andaikan kau tahu
Tangisku dalam kebingungan ini
Yang tak mungkin terjawab olehku
Bulan,
Kembalilah!
Sebab gelap kembali menyelimuti aku.

Ibu Tilda tahu maksud dari puisi itu. Ia tahu kalau siswa-siswanya sangat membutuhkan didikan dan tuntunan darinya. Keadaan yang memilukan itu, membuatnya tak betah di rumah. Ia selalu membayangkan teriakan gembala kecil memanggil-manggil namanya. Sampai suatu hari ia pergi ke kantor dinas.
“Maaf, Pak. Saya harus kembali mengajar di Desa Saru.” Kata Ibu Tilda tegas.
“Nak, masa kontrakmu di sana sudah habis. Kamu harus mengajar di tempat yang baru.” Kata kepala dinas.
“Tapi, mereka membutuhkan saya Pak! Saya harus mendidik mereka. Apakah saya harus tinggal diam ketika mereka terus meneriakkan nama saya? Kata Ibu Tilda lagi.
“Baiklah nak, karena ketulusan hatimu saya akan coba ajukan surat pindah untukmu. Kamu memang luar biasa, Saya bangga terhadapmu nak.” Kata kepala dinas dengan bangga.
Seminggu kemudian, surat kepindahan Ibu Tilda keluar. Ia dipindahkan untuk kembali bertugas di desa Saru. Hatinya kembali damai dan penuh syukur. Ia juga bersyukur mendapat seorang kekasih seperti Sergi yang selalu memahaminya. Lantunan doa mengiringi perjalanannya ke desa Saru sebagai tanda syukur dan terima kasihnya.
Sesampainya di desa Saru ia menemukan siswa-siswanya sedang melihat foto-foto mereka bersamanya. “Ehem…” Seru Ibu Tilda. Suara itu membangkitkan suasana yang sunyi itu. Semua murid berlari ke pelukannya sambil berkata “Ibu….”, dalam hangatnya pelukkan itu seorang berkata, “bulan, akhirnya engkau kembali. Terima kasih.”
Ibu Tilda hanya bisa mengangguk dan tersenyum karena bahagia. Keadaan pun berubah, guru yang adalah bulan mereka telah kembali. Mereka tidak lagi dalam kebingungan, kecemasan, keputusasaan, karena terang telah kembali menuntun dan membimbing jalan mereka.
Ilustrasi
...

Dari Desa Yang Merindukan Bulan, 2017!












Share:

Jumat, 06 Oktober 2017

Tuhan bukan Untuk Harta Materiil

Yones Hambur
Suatu sore aku diundang berbincang-bincang bersama penikmat kopi, Denny Siregar lewat opusnya "Tuhan dalam Secangkir Kopi". Seperti biasa, aku membuka daftar menu yang akan kusantap bersamanya sore itu menemani kopi yang sudah diseduh dan disuguhkan di atas meja beranda pondok kecil buatan tangan alm.kakekku dulu.

Sementara itu, aroma kopi yang masih hangat itu serentak tercium mesrah lewat tarikan nafas yang secara sengaja membawanya pada penciumanku.

Aku cuma merasakan nikmat aromanya yang menakjubkan. Takjub karena lewatnya aku bisa menggembara ke dunia petani kopi yang dengan susah payah memamen, merawat, memetik, sampai mengelolahnya menjadi "bubukkan kopi".

Aroma kopi itu memaksa aku agar berkata jujur bahwa petani kopi itu adalah seorang yang profesional, tentu bukan cuma soal kepandaian tangannya dalam merawat kopi, tetapi karena keluasan hati dan cintanya menghasilkan "bubukan kopi" itu.

Benar kata orang bijak bahwa segala yang dihasilkan karena cinta, pasti kualitasnya tak tertandingi!

Lupakan itu sebentar!

Kali ini Bang Denny - begitu sapaan akrabnya - membiarkan aku memeriksa diri lewat suntikan kata-kata bijaknya tentang hidup manusia.
"Perhatikan gerak shalat", katanya, "sepertinya menggambarkan fluktuasi hidup manusia. Di masa muda, saat kita menetap tujuan, kita berdiri gagah, seakan-akan tak ada rintangan untuk mencapai kebutuhan materiil kita. Dalam perjalanan kita mulai dihajar karena kesombongan kita. Kitapun menunduk karena beban, sampai akhirnya jatuh mencium bumi. Saat itu baru kita sujud pada Allah."
Nasihat ini menggambarkan hidup manusia yang tidak pernah berada dalam posisi "stabil".

Hidup manusia itu selalu fluktuatif, naik turun, bahkan turun terus, sama seperti situasi perekonomian di negri kita yang tidak pernah stabil ini, atau kalau mau lebih ekstrim bahkan seperti situasi politik yang setiap hari menampilkan adegan yang tak bermartabat dan imoral, mulai dari berita tentang operasi tangkap tangan oleh KPK terhadap beberapa kepala daerah sampai pada praktek sebaran kebencian terhadap kelompok yang lain.

Seperti itu juga kehidupan kita!

Ketika berada dalam situasi mapan secara materiil, yang lain selalu dianggap dan dipandang rendah. Tak jarang kita mengolok-olok bahkan menghina orang lain.

Situasi keberlimpahan materiil memang sangat menakjubkan tetapi sekaligus mengerihkan!
Dalam situasi seperti itu, segala yang diinginkan dapat terpenuhi. 'Mengerihkan' karena itu ternyata dapat menjadi 'batu uji' kualitas kemanusiaan kita. Dalam 'keberlimpahan harta' diri kita ditelanjangi secara jujur, apakah kita orang munafik atau tidak, orang yang lembut atau kasar, punya kepeduliaan sosial atau egoistis. Singkatnya "keberlimpahan harta" ternyata teropong yang baik untuk melihat jati diri seseorang.

Orang baru menyadari diri dan bertobat kalau "keberlimpahaan materiil" mulai berkurang, sampai akhirnya kembali kepada Tuhan ketika segala yang dimilikinya hilang, seperti cerita anak yang hilang itu!

Apakah kita menyembah Tuhan karena kita telah kehilangan harta materiil?

Mari bersama seseruput kopi, kita temukan kehadiran Tuhan yang penuh nikmat melebihi aroma kopi itu sendiri!
..
Yones Hambur, 2017

Catatan dan Aroma Kopi

Share:

Jumat, 04 Agustus 2017

Gadis Yang Tak Terlupakan

Ilustrasi

...
Sore itu, seperti biasa dengan sore-sore sebelumnya, setiap orang memilih mangkir di beranda rumah merayakannya dengan menyeruput kopi, melepas dahaga setelah seharian berjuang mencari arti hidup entah lewat kerja, karya atau apa pun bentuknya.
Aku pun tak luput dari deretan mereka-mereka itu.

Tetapi, kali ini aku memilih menyeruput es teh manis a la Javana yang mirip seperti di iklan salah satu stasiun televisi swasta milik seorang pengusaha yang sedang tersandera status tersangka itu.

"Biar maknanya lebih berbeda". Ya, hidup itu kadang seperti sebuah bongkahan es yang dingin tetapi tetap mesti dibuat manis.

Dingin karena beberapa orang sering hatinya terpukul entah karena cinta yang pernah gagal sehingga membuat dia tak lagi membuka diri dengan cinta yang lain. Atau karena kekasihnya yang pergi tanpa pernah memberi kabar untuk kembali merajut kasih bersamanya lagi.

Tetapi, satu hal yang perlu diingat bahwa hidup mesti tetap dimaknai meski sesuatu yang pernah dianggap bermakna menjadi hilang dan pergi dalam sekejap mata.

Aku bukanlah seorang pekerja, kalau kerja diartikan secara sempit seperti hanya sebagai cara mencari nafkah untuk bertahan hidup.

Namun, kalau diartikan lebih luas, sebenarnya aku juga seorang pekerja. Aku memiliki profesi sebagai tukang kata. Segala hariku dihabiskan dengan menenun, membangun, membentuk sebuah yang namanya bangunan kisah. Kisah itu bukan yang sembarang.

Ia menyimpan berbagai macam hal yang diidamkan oleh setiap orang, segala hal yang diimpikan setiap insan yang bernyawa dan berakhlak. Sore itu, aku memilih mengalaskan diri di atas kursi rotan peninggalan kakekku dulu.

Kursi itu sengaja diabadikan di beranda rumah biar aku selalu tahu diri. Ia, kursi ini memang saksi diam ketika kakek selalu menasehati aku dengan caranya yang paling lembut biar kelak aku jadi orang yang pandai, bijak, rendah hati.

Banyak keutamaan yang disuapi kakek padaku dulu dari atas kursi rotan itu.
Kali ini wajah kursi itu semakin lapuk dan kusam, batang rotannya hampir ringkih dilahap waktu, ditelan masa. Bersamanya aku terlarut dalam ingatan akan gadis itu.

Gadis yang akhir-akhir ini selalu menjadi bunga malam di sa'at aku berbaring dalam pangkuan malam yang pekat.

Ya, gadis itu.

Alam mimpiku selalu menyediakan waktu tuk hadirkan dirinya untukku. Entah kenapa, setiap kali aku hampir melupakannya, mimpiku selalu menunjukan kembali jejaknya padaku. Mimpi selalu memelihara setiap rangkakan kakinya untukku.

Ia itu gadis yang selalu diceritakan mimpi setiap kali aku hampir tak lagi menyuratkan namanya di setiap candaku.

Gadis yang dulu pernah selalu kupuja melebihi keindahan senja yang selalu setia menghidangkan merah merekah bagi setiap insan penantinya.

Gadis yang pernah berbicara lewat diam tentang pentingnya cinta dalam diriku.

Ya, gadis itu memang peracik paling mujarab sampai hatiku yang sebelumnya dingin akan itu tersungkur dalam gairah-gairah cinta yang memabukan.

Gadis yang mengajarkan cinta sejati nan kekal padaku. Ia menunjukkan aku cara mencintai dengan benar lewat kepergiannya tanpa simpati akan diriku dulu. Lewat kepergiannya itu, ia memberikan pesan sebuah pentingnya keikhlasan.
Ilustrasi

Seketika,
Angin sore berbisik dan membicarakan arti itu semua
...
"Benar kata orang bijak bahwa cinta itu abadi. Karena cinta, segala hal akan selalu ada. Cinta tidak pernah terkalahkan oleh apapun termasuk oleh maut yang dengan rakus biasa melahap dan menelan segala sesuatu tanpa rasa belas kasih dan empati sekalipun. Cintalah yang membuat hidup menjadi abadi dan bergairah penuh warna."
...
Jakarta, 2017 
Share:

Kamis, 03 Agustus 2017

Pada Sebuah Senja

Ilustrasi

Sore itu, kembali aku hadapan dua bola mataku di tempat sapaan laut dan darat. Kali ini aku putuskan pasir putih itu sebagai alas tempatku duduk. Suasana sore itu cukup berbeda dengan sore-sore sebelumnya. 

Wajah sore yang biasanya penuh pandangan magis yang menarik pikat mata pecinta alam pantai dan perindu senja, rupanya lagi malas-malasan.

Tak seperti biasanya ia datang menyapa setiap pengunjung yang hendak meminta nasihat bisunya karena hiruk-pikuk kehidupan yang cukup ganas.

Kali ini wajahnya kusam, keriput mungkin karena terlahap waktu. "Ah, tapi ia itu tidak seperti diriku".

Entah kenapa, sore itu alam di pantai itu terlihat tak menggairahkan. Langit biru yang biasanya penuh dengan semangat menunggu senja berpangku padanya tak lagi terlihat.

Dua ekor burung bangau yang menjadi tanda datangnya senja pun tidak kunjung menunjukkan jejak-jejaknya.

Begitu pun dengan beberapa anak pantai yang biasa menghabiskan sisa waktu seharinya dengan bercanda tawa bersama ombak seraya menyaksikan tamparannya pada batu karang di sudut utara pantai itu.

Suasana sore itu memang cukup berbeda dan tak bergairah apalagi bagi setiap pengunjung yang tahu betul akan berbagai macam kemungkinan cantik yang akan lahir dari rahim semesta pantai itu.

Hidangan merah merekah dari langit senja rupanya lupa akan tugasnya menyapa setiap ciptaan yang mampir di pantai itu.

Entalah. Lupakan itu.

Tetapi yang jelas ada hal yang cukup berbeda dari biasanya. Kali ini bukan hanya soal wajah semesta sore di pantai itu yang tidak seperti sebelumnya.

Ada yang betul-betul menarik tatapan dan seluruh perhatianku yang tak pernah kujumpai sebelumnya setiap kali aku mampir menanggalkan lelah, membuang pekat di pantai itu.

Aku memang suka memilih berdamai dengan diriku lewat alam, makanya aku memilih pantai itu sebagai sahabat tempat aku dapat mengampuni setiap diriku yang hilang dilahap dunia yang tidak pernah menawarkan apalagi menyuguhkan kedamaian di setiap hariku.

Aku percaya bahwa alam pantai dengan aroma senjanya yang menakjubkan sungguh-sungguh menjadi mantra mujarab mengobati segala luka yang tergores lewat detik-detik hari yang berlalu.

Dalam senja aku selalu menemukan kedamaian hati, ketenangan batin, kekuatan jiwa. Ada seperti sepucuk undangan di sana menuju kesadaran nurani dan kesempurnaan budi.

"Mungkin itulah sebabnya mengapa senja menjadi idaman setiap insan pecinta kehidupan ini".

Namun, kali ini ada sesuatu yang buatku melupakan itu. Aku serentak menarik ingatanku dari penantian akan senja yang belum hadir di sore itu.

Mataku yang menatap kosong karena lamunan akan makna hidup yang kadang absurd ini tiba-tiba tersadarkan akan sosok gadis kecil yang dengan cepat muncul berada tepat di depan pandanganku. 

Kehadirannya memaksa aku tuk mengalihkan pandangan serta diriku sepenuhnya akan kehadirannya. Dengan sekecap penantianku akan senja terabaikan lewat cara gadis itu mewujud di hadapanku.

Ya, gadis kecil itu memang sangat berbeda. Sampai hati kecilku bergemetar ketakutan akannya. Aku menatapnya tanpa kata.

Tampakkannya di hadapanku cukup mengubah diriku yang sebelumnya suka mengabaikan setiap orang yang menyambar di depan wajahku.

Gadis itu memang orang pertama yang cukup mampu mengusik sikapku dari ketakpedulian akan kehadiran orang lain di hadapanku.

"Kak, aku datang diutus senja untukmu". Tiba-tiba suara kecilnya masuk kedalam telingaku. "Aku tahu, kakak merindukan senja sahabat kakak itu."

"Kali ini ia tak mau menemanimu, membantumu memulihkan diri karna hari-harimu yang menyakitkan." "Aku membawa pesan lewat sepucuk surat ini darinya untukmu".

Tiba-tiba gadis kecil itu menghilang entah kemana. Sepucuk surat pun tertinggal di tempatnya berdiri.
Dengan tangan gemetar kugunakannya mengambil surat itu.

Hatiku semakin gemetar ketika hendak mengetahui maksud surat itu. Sempat aku berniat untuk mengabaikannya karna pikirku itu cuma sebuah halusinasi akibat keadaan jiwa yang selalu kosong, merana tanpa arah apalagi sebuah tujuan. Tetapi hati kecilku memaksa aku tuk membacanya.
...
Dear,

Sahabatku,
Aku tahu kau akan datang di tempat ini tuk bersua denganku.

Aku pun tahu cerita apalagi yang mesti aku dengar darimu.

Sengaja aku tak merekah untukmu hari ini.
Aku tahu tempat ini akan selalu jadi saksi diam jumpa kita.

Tetapi,
Aku tahu tempat ini tidaklah cocok untuk kita,
Demi persahabatan kita,
Aku telah menemukan sebuah tempat yang pas untuk melanjutkan rajutan hubungan kita,
Pergilah mencari aku di kedalaman hatimu.

Di sana kau akan menemukan diriku yang sesungguhnya,
Diriku yang selama ini kusimpan dari mata penikmat-penikmatku di pantai ini,
Karena di situ segala keindahanku akan kau temukan semuanya.

Aku sengaja memilih merekah di hatimu,
biar kau selalu ceriah menjumpai detik-detik hidupmu,
Karena merekah lewat hati akan lebih indah nan abadi dari segala sesuatu.
...
"Senja yang sejati adalah senja yang merekah dari kedalaman hati, keluasan jiwa, kepenuhan cinta yang menakjubkan."
Ilustrasi

...
Yones Hambur
Jakarta, 2017!



Share:

Video Widget

Diberdayakan oleh Blogger.

Bonjour & Welcome

Agama dalam Ruang Publik Menurut Roger Trigg, Sebuah Penutup

Roger Trigg, Profesor Emeritus pada Oxford University BAB V PENUTUP  Oleh: Yones Hambur "Tulisan ini merupakan sebu...

Total Pageviews

Cari Blog Ini

Top Stories

Video Of Day

Top Stories

Recent Posts

Unordered List

Theme Support

Sponsor

Flickr Images

Popular Posts

Popular

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support